Minggu, 16 Mei 2010

Pembuatan Papan Partikel

PEMBUATAN PAPAN PARTIKEL DARI LIMBAH SERBUK KAYU-PLASTIK PET DAUR ULANG

DENGAN PENAMBAHAN SERAT ORGANIK

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Limbah merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang harus mendapatkan perhatian serius dari semua pihak karena berakibat langsung terhadap kehidupan mahluk hidup yang ada di bumi ini. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan beberapa kota lainnya, limbah masih menjadi permasalahan yang seakan tidak ada solusinya. Khusus untuk kota Banda Aceh sendiri yang pernah dilanda Tsunami, penanganan limbah membutuhkan dana yang sangat besar, perombakan sistem dan keseriusan serta kesadaran semua pihak terutama warga dan pemerintahnya.

Dalam menangani limbah perkotaan, salah satu yang menjadi permasalahan akut adalah limbah plastik, walaupun jumlahnya hanya 14 %. Plastik merupakan suatu bahan polimer yang sangat susah terdekomposisi oleh mikroorganisme pengurai. Limbah plastik dipandang sebagai masalah yang lebih serius dibandingkan dengan limbah organik karena sifat-sifat khusus yang dimilikinya, yaitu tidak bisa terurai secara alami (non biodegradable), sama sekali tidak menyerap air dan juga tidak dapat berkarat. Karena sifatnya tersebut limbah plastik bisa menimbulkan banyak efek negatif terhadap alam seperti pembentukan film/kantongan yang dapat menyumbat aliran air di parit, selokan, sungai ataupun tempat terbuka yang dapat mengakibatkan genangan air dan tidak jarang bisa menimbulkan banjir. Apabila limbah plastik terdapat didalam tanah maka seluruh unsur hara yang ada dibawah cakupannya akan hilang sehingga dapat merusak stabilitas ekositem tempat tersebut. Lain halnya dengan limbah organik yang kuantitasnya jauh lebih besar tapi bisa terurai di alam dengan sendirinya (Wirjosentono B, 1998).

Ditinjau dari segi ekonomis dan aplikasinya plastik dapat digolongkan dalam 2 golongan utama yaitu plastik komoditi dan plastik teknik. Plastik komoditi dicirikan dengan memiliki volume yang tinggi dan harga yang relatif murah. Plastik jenis ini biasanya digunakan sebagai lapisan pengemas, isolasi kawat dan kabel, bahan baku untuk mainan dan lain sebagainya. Sedangkan plastik teknik cenderung lebih mahal dan memiliki sifat mekanik yang unggul serta memiliki daya tahan yang baik. Plastik jenis ini bersaing dengan logam, keramik dan gelas dalam berbagai jenis aplikasi. Polyester merupakan plastik teknik yang utama yang mencapai 99 % dari plastik teknik yang beredar di pasaran yang dipakai dalam bidang transportasi (mobil, sepeda motor dan pesawat), konstruksi (perumahan, instalasi pipa, perangkat keras), bahan listrik dan elektronik, mesin-mesin industri dan barang-barang konsumsi rumah tangga (Stevans, 2001).

Salah satu penanganan limbah plastik adalah dengan proses daur ulang, walaupun hasilnya belum sebaik hasil olahan plastik segar, ini disebabkan oleh kerusakan dan oksidasi pada rantai molekul plastik selama pembuangan dan adanya pengaruh cuaca serta pengotoran campuran plastik lainnya. Sedangkan proses daur ulang limbah plastik yang berbentuk kantongan/film belum banyak dilakukan karena susah dalam hal pengumpulan(Wirjosentono B, 2000).

Senada dengan itu, dari kegiatan pemanenan dan industri pengolahan kayu dihasilkan limbah kayu berupa potongan-potongan kayu bulat (log), sebetan, serbuk gergajian (saw dust), potongan venir dan lain-lain. Karena industri tersebut masih belum efektif dan efisien dalam hal peralatan dan manajemen, rendemen yang dihasilkan belum optimal sehinga limbah yang dihasilkan mencapai 50 % dari total kayu bulat mentah yang dipanen. Limbah tersebut biasanya hanya dibuang percuma atau hanya sekedar dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak yang mana bisa menimbulkan masalah pencemaran udara dari asap yang dibentuknya. Dari data Departemen Kehutanan dan Perkebunan pada tahun 2006 bahwa limbah kayu yang dihasilkan dari industri kayu lapis dan kayu gergajian diperkirakan mencapai 7.508.019 m3(Wirjosentono B, 2000).

Adanya berbagai masalah lingkungan ini mendorong para ahli untuk mendaur-ulang kembali limbah-limbah ini menjadi kayu komposit. Pemakaian plastik polipropilena daur ulang dan wood dengan komposisi 50:50 dengan penambahan compatibilizer anhidrida maleat (MAH) 2,5 % menghasilkan kekuatan komposit yang optimal (Setyawati, 2003).

Para pakar industri otomotif Eropa memprediksikan di tahun 2015 penggunaan komposit kayu-plastik akan jauh meningkat karena sedang diupayakannya 95 % komponen otomotif harus bisa didaur ulang. Hal ini sudah dipelopori oleh Mercedes Benz sejak tahun 1994 dengan menggunakan plastik polipropilen yang diperkuat serat rami untuk panel interior pada seri E-Class (Ismunandar, 2003).

Dari uraian diatas kami berkeinginan untuk membuat dan meneliti peningkatan kekuatan komposit Kayu-Plastik daur ulang dengan penambahan serat organik sebagai rangka penguat.

1.2 Perumusan Masalah

Kebutuhan kayu yang terus meningkat dan potensi hutan yang terus berkurang menuntut penggunaan kayu secara efisien dan bijaksana, antara lain dengan memanfaatkan limbah berupa serbuk kayu menjadi produk yang bermanfaat. Meskipun penelitian mengenai pemanfaatan limbah serbuk kayu dan plastik daur ulang melalui pembuatan komposit telah banyak dilakukan namun informasi mengenai pengaruh penambahan serat organik belum banyak diketahui. Untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang efek penambahan serat organik pada komposit kayu-plastik terkait dengan ketahanan dan kekuatan mekanisnya.

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan serat organik pada komposit kayu-plastik terhadap ketahanan dan kekuatan mekanisnya.

1.4 Manfaat Penelitian

Diharapkan penelitian ini dapat memberikan suatu informasi baru tentang pemanfaatan limbah plastik daur ulang dan serbuk gergajian dengan penguat serat organik yang lebih berdaya-guna dalam bentuk komposit dan hendaknya metode yang digunakan dapat dimanfaatkan oleh industri-industri yang memproduksi komposit kayu-plastik daur ulang.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Serbuk Kayu

Penanganan limbah kayu yang dihasilkan oleh industri pengolahan kayu di Indonesia masih belum optimal karena peralatan yang kurang memadai. Limbah kayu berupa potongan log maupun sebetan sejauh ini telah dimanfaatkan sebagai inti papan blok dan bahan baku papan partikel. Adapun limbah berupa serbuk gergaji biasanya hanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar saja. Untuk industri besar dan terpadu, limbah serbuk kayu gergajian sudah dimanfaatkan menjadi bentuk briket arang dan arang aktif yang dijual secara komersial, namun untuk industri kecil yang tersebar di berbagai daerah dan mencapai ribuan unit limbah ini belum dimanfaatkan secara maksimal. (Setyawati, 2003).

Tipe-tipe utama partikel kayu yang digunakan sebagai bahan pengisi (filler) yaitu :

  1. Tatal, yaitu bentuk kepingan yang dipotong dari suatu balok dengan memakai pisau yang besar atau pemukul, seperti mesin pembuatan tatal kayu pulp.
  2. Pasahan, yaitu partikel kayu berdimensi yang tidak menentu yang dihasilkan apabila mengentam lebar atau mengentam sisi ketebalan kayu, ketebalannya bervariasi dan sering tergulung.
  3. Serpih, yaitu partikel kecil dengan dimensi yang telah ditentukan sebelumnya yang dihasilkan dari peralatan yang telah dikhususkan. Ketebalannya seragam dan orientasi serat sejajar permukaannya.
  4. Biskit, merupakan partikel yang berbentuk serpihan namun lebih besar ukurannya.
  5. Untaian, merupakan pasahan dalam bentuk panjang dan pipih dengan permukaan yang sejajar.
  6. Kerat, yaitu potongan-potongan melintang dalam bentuk persegi dengan panjang paling sedikit empat kali ketebalannya.
  7. Serbuk gergaji, merupakan partikel kayu halus yang dihasilkan dari pemotongan oleh gergaji kayu (Putra, 2009).

P3300041

Gambar 2.1 Serbuk kayu

2.1.1 Klasifikasi Kayu

Pada dasarnya akan sangat sulit sekali mengelompokkan ribuan bahkan jutaan jenis kayu yang ada di bumi ini. Namun secara umum kayu dibagi atas dua golongan besar, yaitu kayu keras dan kayu lunak. Kayu yang berasal dari pohon berdaun lebar umumnya keras, sedangkan kayu yang berasal dari pohon berdaun jarum lebih lunak. Namun di antara pohon-pohon yang sejenis didapati kekerasan yang berbeda. Bahkan pada satu jenis pohon yang sejenis didapati kekerasan batang yang tidak tetap. Sebab proses pertumbuhan di seluruh tempat tidak berlangsung dengan kecepatan atau cara yang sama karena dipengaruhi langsung oleh nutrisi dan kultur tempat pohon tersebut tumbuh. Kayu yang digunakan sebagai bahan bangunan adalah kayu olahan yang diperoleh dengan jalan mengkonversikan kayu bulat menjadi kayu berbentuk balok, papan atau bentuk lain sesuai dengan tujuan penggunaannya.

2.1.2 Sifat Fisik Kayu

Sifat fisik dari kayu adalah karakteristik kuantitatif dan kemampuan untuk tahan terhadap pengaruh dari luar. Sifat fisik ini sangat penting untuk diketahui karena punya pengaruh besar terhadap kekuatan dan tampilan kayu yang digunakan. Sifat fisik dari kayu juga mempengaruhi sifat mekaniknya. Sifat fisik kayu ditentukan oleh tiga ciri, yaitu:

  1. Porositas atau ukuran volume rongga, yang dapat diperkirakan dengan mengukur kerapatannya.
  2. Organisasi struktur sel, yang meliputi struktur mikro dinding sel, variasi dan ukuran besarnya sel.
  3. Kandungan air.

Beberapa hal yang tergolong dalam sifat kayu adalah berat jenis, keawetan alami, higroskopik, berat volume dan kekerasan. Keawetan alami adalah ketahanan kayu terhadap serangan dari unsur-unsur perusak kayu dari luar, seperti jamur, rayap, bubuk, cacing laut dan mahkluk lainnya yang diukur dengan jangka waktu tahunan.

Kayu juga mempunyai sifat higroskopik, yaitu dapat menyerap dan melepaskan air atau kelembaban. Kelembaban kayu sangat dipengaruhi oleh kelembaban dan suhu udara pada suatu tempat. Semakin lembab udara di sekitarnya akan semakin tinggi pula kelembaban kayu sampai tercapai keseimbangan dengan lingkungannya. Masuk dan keluarnya air dari kayu akan mengakibatkan kayu tersebut mengembang atau menyusut (Putra, 2009).

2.1.3 Sifat Mekanik Kayu

Sifat mekanik kayu ialah sifat-sifat yang terkandung pada statu kayu terkait kemampuan kayu tersebut menahan atau melawan gaya ataupun beban-beban yang datang dari luar. Yang dimaksud dengan beban dari luar yaitu gaya-gaya di luar benda yang mempunyai kecenderungan untuk mengubah posisi, bentuk dan ukuran benda tempat gaya tersebut bekerja. Kekuatan kayu memegang peranan penting dalam penggunaan kayu terutama sekali untuk bangunan, oleh karena itu hampir pada semua pengguna kayu dibutuhkan syarat kekuatan (Putra, 2009).

2.1.4 Kandungan Air dalam Kayu

Kadar air adalah jumlah air yang dikandung oleh kayu. Banyaknya air di dalam kayu selalu berubah-ubah tergantung pada suhu atau udara di sekelilingnya. Semua sifat fisik kayu sangat dipengaruhi oleh perubahan kadar air kayu. Oleh karena itu, dalam penggunaan kayu sebagai bahan baku bangunan, perabot dan lain sebagainya perlu diketahui kandungan kadar air di dalam kayu. Keadaan air yang terdapat di dalam kayu terdiri atas dua macam, yaitu:

  1. Air bebas, yaitu air yang terdapat dalam ronggga-rongga sel, paling mudah dan terdahulu keluar. Air bebas umumnya tidak mempengaruhi sifat dan bentuk kayu kecuali berat kayu.
  2. Air terikat, yaitu air yang berada dalam dinding-dinding sel kayu dan sangat sulit untuk dilepaskan. Air yang berada pada dinding-dinding sel inilah yang berpengaruh pada sifat-sifat kayu dan menyebabkan penyusutan (Putra, 2009).

2.2 Plastik

Plastik merupakan suatu bahan polimer yang tidak mudah terdekomposisi oleh mikroorganisme pengurai karena sifat-sifat khusus yang dimilikinya yaitu suatu polimer rantai panjang sehingga bobot molekulnya tinggi dimana atom-atom penyusunnya saling mengikat satu sama lain. Rantai ini membentuk banyak unit molekul berulang yang membentuk susunan rantai yang linear, bercabang ataupun tata jaringan yang disebut monomer yang sangat sulit diputus. Plastik yang umum terdiri dari polimer karbon saja atau dengan oksigen, nitrogen, klor atau belerang di tulang belakang. Tulang belakang adalah bagian dari rantai di jalur utama yang menghubungkan unit monomer menjadi kesatuan. Untuk mengeset properti plastik grup molekuler berlainan bergantung dari tulang belakang (biasanya digantung sebagai bagian dari monomer sebelum menyambungkan monomer bersama untuk membentuk rantai polimer). Pengembangan plastik berasal dari penggunaan material alami (seperti: permen karet) sampai ke material alami yang dimodifikasi secara kimia (seperti: karet alami) dan akhirnya ke molekul buatan manusia (seperti: epoxy, polyvinyl chloride, polyethylene) (Anonimous, 2009).

Plastik merupakan bagian dari molekul hidrokarbon zat yang penyusun dasarnya adalah karbon dan hidrogen. Contoh dari ikatan kovalen diantaranya: Ikatan tunggal C-C, ikatan ganda C=C atau ikatan rangkap 3 C≡C. Molekul dari plastik sering disebut dengan makro molekul karena ukurannya sangat besar dilihat dari panjang rantai karbonnya. Untuk menyederhanakan struktur kimia dari makro molekul, maka digunakan penyingkatan. Bagian terkecil dari rantai karbon yang panjang disebut dengan mer atau monomer. Polimerisasi artinya penggabungan bersama monomer. Sekarang ini ada ribuan jenis plastik, tapi pada dasarnya, atom-atom penyusun inti plastik adalah Karbon (C), Hidrogen (H) dan beberapa tambahan atom Oksigen (O), Nitrogen (N), Klor (Cl), Flour (F) dan belerang (S). Penyusun kimia paling dasar dari plastik disebut dengan homopolimer karena hanya terdiri dari satu struktur dasar.

Polietilena tereftalat (PET) merupakan salah satu polimer termoplastik golongan polyester yang banyak dibuat sebagai kemasan botol plastik khususnya botol aquadest. Struktur molekul PET adalah semikristalin dan mempunyai sifat-sifat yaitu berupa lapisan film lunak yang transparan dan fleksibel, mempunyai kekuatan benturan serta kekuatan sobek yang baik. Namun apabila ia didaur ulang maka akan menurunkan kualitasnya (Sitepu, 1992). Dengan pemanasan akan menjadi lunak dan mencair pada suhu 110oC. Berdasarkan sifat permeabilitasnya yang rendah serta sifat-sifat mekaniknya yang baik, PET mempunyai ketebalan 0,001 sampai 0,01 inci, juga banyak digunakan sebagai pengemas makanan, karena sifatnya yang thermoplastik, PET mudah dibuat menjadi kantung dengan derajat kerapatan yang baik (Nurmimah, 2002).

PET hanya dapat dipakai 1 atau 2 kali saja atau paling lama 1 minggu dan harus diletakkan jauh dari sinar matahari lansung, hal ini karena botol-botol ini mengandung zat karsinogen, jadi sebaiknya setelah dipakai 1 atau 2 kali botol-botol ini langsung dibuang atau didaur ulang.

Tabel 2.1 Sifat-sifat PET secara umum

aaa Sifat mekanik dan fisika

Nilai/Satuan

Spesifik gravity

1,3

Tensile

48 -72 (Mpa)

Modulus Elastis

2760 – 4140 (Mpa)

Elongasi

50 – 300 %

Kekuatan kompresi

76 -103 (Mpa)

Kekuatan fleksur

96 – 124 (Mpa)

Kekuatan impact/benturan

0,14 – 0,37 (N/cm)

Titik leleh

2650C

Suhu transisi glass

690C

Density

1,41 gr/cm3

2.3 Komposit Serbuk Kayu-Plastik Daur Ulang

Secara umum komposit dapat diartikan sebagai suatu bahan dengan gabungan dua atau lebih komponen untuk menghasilkan sifat atau ciri-ciri yang tidak dapat dicapai masing-masing komponen tersebut tanpa dipadukan dengan bahan lainnya. Sedangkan komposit kayu-plastik merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan kayu yang terbuat dari potongan-potongan kayu yang lebih kecil dan direkatkan bersama-sama (Maloney, 1996). Mengacu kepada pengertian diatas, maka komposit kayu-plastik mencakup hal ataupun bahan komposit yang mengandung kayu (dari berbagai bentuk) dan resin termoset atau termoplastik. Termoset adalah plastik yang dibuat melalui proses pemanasan dan tekanan kemudian mengalami perubahan kimia yang membuatnya keras. Pemanasan kembali tidak akan melunakkan plastik jenis ini. Sedangkan termoplastik merupakan plastik yang dapat berulangkali dilunakkan, contohnya plastik polietilena dan polivinil klorida (PVC).

Komposit kayu-plastik termoset diperkenalkan pada awal tahun 1900-an. Produk komersial komposit ini pertamakali dipasarkan dengan merek dagang Bakelite, yang terbuat dari phenol formaldehyde dan tepung kayu (Sumanto, 1994). Penggunaan komersial pertamakali dilaporkan sebagai gearshift knob untuk Rolls Royce pada tahun 1916. Komposit kayu-plastik telah diproduksi di Amerika selama beberapa dekade (Clemons, 2002). Beberapa contoh kayu komposit terlihat pada Gambar 2.2.

wood composite

Gambar 2.2 kayu komposit

Kebanyakan komposit termoplastik mengguanakan bahan pengisi yang bersifat tidak terbarukan (non renewable), seperti serat kaca atau mineral. USDA forest service, Forest Produsts Laboratory (FPL) telah menghasilkan database penting yang menunjukkan bahwa komposit termoplastik yang dibuat dari limbah kertas atau limbah serat kayu memberikan hasil yang positif dan sangat bermanfaat. Keunggulan dari komposit yang terbuat dari limbah serat kayu ini adalah bersifat terbarukan , murah, ringan dan tidak abrasif pada alat prosesnya

Serat kayu dapat juga digabung dengan plastik seperti etilena, polipropilena, dan comingled thermoplastic menggunakan teknologi melt-blending yang murah, kecepatan proses yang tinggi dimana kyu dan kertas dicampur dengan mengunakan molten-plastic. Campuran ini dapat dibentuk menjadi produk dengan menggunakan proses plastic convensional seperti ekstruksi dan molding injeksi. Plastik bertindak sebagai matriks penyatu kayu selama proses, sedangkan kayu membawa beban pada produk akhir komposit, yang menandakan keseimbangan efektif kemampuan proses dan kekuatan dari produk akhir (Youngquist, 1995).

Pada dasarnya pembuatan komposit serbuk kayu ini dapat dibuat melalui proses satu tahap, proses dua tahap, maupun proses kontinyu. Pada proses satu tahap, semua bahan baku dicampur terlebih dahulu secara manual kemudian dimasukkan ke dalam alat pengadon (kneader) dan diproses sampai menghasilkan produk komposit. Pada proses dua tahap bahan baku plastik dimodifikasi terlebih dahulu, kemudian bahan pengisi dicampur secara bersamaan di dalam kneader dan dibentuk menjadi komposit. Kombinasi dari tahap-tahap ini dikenal dengan proses kontinyu. Pada proses ini bahan baku dimasukkan secara bertahap dan berurutan di dalam kneader kemudian diproses sampai menjadi produk komposit. Umumnya proses dua tahap menghasilkan produk yang lebih baik dari proses satu tahap, namun proses satu tahap memerlukan waktu yang lebih singkat.

Tahap pembuatan kayu komposit adalah :

a. Penyiapan filler

Pada prinsipnya penyiapan filler ditujukan untuk mendapatkan serbuk kayu atau tepung kayu dengan ukuran dan kadar air yang seragam. Makin halus serbuk semakin besar kontak permukaan antara filler dengan matriknya, sehingga produk menjadi lebih homogen. Akan tetapi, bila ditinjau dari segi dekoratif, komposit dengan ukuran serbuk yang lebih besar akan menghasilkan penampakkan yang lebih baik karena sebaran serbuk kayunya memberikan nilai tersendiri.

b. Blending (Pengadonan)

Tahap-tahap dalam pengadonan ini disesuaikan dengan proses yang digunakan, satu tahap, dua tahap, atau kontinyu. Kondisi pengadonan yang paling berpengaruh dalam pembuatan komposit adalah suhu, laju rotasi dan waktu pengadonan.

c. Pembentukan Komposit

Setelah proses pencampuran selesai, sampel langsung dikeluarkan untuk dibentuk menjadi lembaran dengan kempa panas. Pengempaan dilakukan selama 2,5-3 menit dengan tekanan sebesar 100 kgf/cm2 selama 30 detik pada suhu 170-190ÂșC. Setelah dilakukan pengempaan dingin pada tekanan yang sama selama 30 detik, lembaran kemudian didinginkan pada suhu kamar.

d. Pengujian Komposit

Pengujian komposit dilakukan untuk mengetahui apakah produk yang dihasilkan telah memenuhi persyaratan yang ditentukan untuk suatu penggunaan tertentu. Jenis pengujian disesuaikan dengan kebutuhan, umumnya meliputi pengujian terhadap sifat fisis, mekanis, serta thermal komposit.

Untuk spesimen uji tarik digunakan standar ASTM 638-99 tipe 1, seperti tampak pada Gambar 3.1








W Wo

L


D

LO

Gambar 3.1 Bentuk spesimen uji tarik

Dimana:

LO (panjang specimen keseluruhan) : 165 mm

D (jarak antar grip/penjepit : 115 mm

L (panjang bagian penampang kecil) : 57 mm

Wo (lebar penjepit) : 19 mm

W (lebar bagian penampang kecil) : 13 mm

Tebal spesimen : 3 mm

Untuk spesimen uji kekerasan digunakan standar ASTM D 785 dengan ketebalan 6,4 mm dan diameter 25 mm.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini InsyaAllah akan dilakukan pada bulan Juni hingga Agustus 2009 di Laboratorium Operasi Teknik Kimia, Laboratorium Bioproses di Jurusan Teknik Kimia, Laboratorium Material di Jurusan Teknik Mesin, Laboratorium Material di Jurusan Fisika Fakultas MIPA, Universitas Syiah Kuala dan Laboratorium Kimia polimer Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat-alat yang digunakan

  1. Ayakan dengan ukuran 25 dan 50 mesh
  2. Holder alumunium
  3. Plastik milar
  4. Oven
  5. Timbangan digital
  6. Pengaduk
  7. Motor pengaduk
  8. Reaktor
  9. Cetakan uji tarik (ASTM D 638-99 tipe 1) dan uji kekerasan (ASTM D 785)
  10. Hot press
  11. Alat uji kekerasan EMCOTEST
  12. Alat uji tarik (tensile strength)
  13. Alat uji thermal (Differential Scanning Calorimetry (DSC-60))

3.2.2 Bahan-bahan yang digunakan

  1. Serbuk kayu sebagai bahan pengisi dengan ukuran 20 - 25 mesh
  2. Plastik polipropilena daur ulang sebagai matriks
  3. Serat pohon kelapa sawit

3.3 Variabel

3.3.1 Variabel Tetap

  1. Waktu pengempaan
  2. Ukuran partikel 20 – 40 mesh
  3. Suhu pengempaan 1750C

3.3.2 Variabel yang berubah

  1. Serat organik yang didapatkan dari pohon kelapa sawit
  2. Perbandingan komposisi serbuk kayu : plastik daur ulang

3.4. Metode Penelitian

3.4.1 Prosedur Percobaan

A. Penyiapan Sampel.

Bahan yang akan digunakan sebagai bahan pengisi berupa serbuk kayu yang diayak untuk menyamakan ukuran kemudian dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 105oC selama 24 jam untuk mengurangi kadar air yang terkandung di dalam serbuk kayu.

B. Proses Pembuatan

Adapun tahap pembuatan komposit ini adalah sebagai berikut:

1. Timbang serbuk kayu yang telah diayak dan kekeringan dan biji plastik dengan perbandingan yang diinginkan.

2. Biji plastik dimasukkan ke dalam reaktor dan ditambahkan pelarut xylene untuk mencairkan biji plastik.

3. Serbuk kayu dimasukkan dan diaduk hingga homogen.

4. Dibiarkan sampai pelarut menguap.

5. Dilakukan pengempaan dengan hot press.

6. Dibiarkan hingga suhu kayu komposit konstan.

7. Dilakukan pengujian.

C. Pengujian Kekuatan Makanis Komposit

Adapun pengujian yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah:

1. Uji kekerasan di Laboratorium Material Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Unsyiah.

2. Uji tarik pada Laboratorium Material Jurusan Fisika, Fakultas MIPA Unsyiah.

3. Uji termal menggunakan DCS (Differential Scanning Calorimeter) di Laboratorium Katalis dan Katalisis Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Unsyiah.

3.4.2 Analisa Data

Data hasil pengujian akan dianalisa dalam bentuk grafik dan statistik.

3.5 Jadwal Penelitian

Pelaksanaan penelitian direncanakan selama 12 minggu dengan perincian kegiatan dan alokasi waktu ditunjukkan pada Tabel 3.1

Tabel 3.1 Jadwal pelaksanaan penelitian

Kegiatan

Bulan ke

1

2

3

Minggu ke

Minggu ke

Minggu ke

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1.Penyempurnaan proposal

2. Persiapan Alat dan Bahan

3. Melakukan Penelitian

4. Analisa uji kekerasan

5. Analisa uji tarik & DSC

6. Penyusunan Laporan

7. Penyerahan Laporan Akhir

8. Disseminasi hasil

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, (2003), Polimerisasi Alkena,

http://www.chem-is-try.org/index.php?sect=belajar&ext=alkena01_09

Ismunandar, (2003), Biokomposit, Komposit Hijau Untuk Bahan otomotif, Kompas, Edisi Senin 06 Oktober

Jurnal, (2002), Berita Pengemasan, Jakarta : Federasi Pengemasan Indonesia

Nurmimah, M. (2002), Penelitian Sifat Berbagai Bahan Kemasan Plastik dan Kertas serta Pengaruhnya terhadap Bahan yang Dikemas, http://library.usu.ac.id/download/fp/fp-mimi.pdf

Putra, 2007, Jenis Kayu, http://putra-ins04.blogspot.com/2007/06/jenis-kayu.html

Setyawaty, D. (2003), Komposit Serbuk Kayu Plastik Daur Ulang: Teknologi Alternatif Pemanfaatan Limbah Kayu dan Plastik, http://tumoutou.net/702_07134/dina_setyawati.htm

Stevans, M.P, (2001), Kimia Polimer, Terj. Iis Sopyan, Jakarta : Pradnya Paramita, hal 35, 127, 135, 180, 295-328.

Wirjosentono , (2000), Analisis dan Karakteristik Polimer, Edisi I, USU Pres, hal 75-82, 95-102.

Wirjosentono , (1998), Struktur dan Sifat Mekanis Polimer, Edisi I, Intan Dirja Lela Pres : Medan, hal 22-23, 45-47.

WWW.POLYPROPYLENE.htm.Com